Mendobrak Sisi Pekat Hati

"Bunuh diri?? huaaah tak mau!! dosaaaa!!", teriak ku merespon cepat ucapan sahabat yang menjadi teman curhat di awal pagi.

"Masih ingat dosa? kenapa bisa bilang separuh jiwa pergi?", ujarnya lagi sedikit ketus tapi sangat menohok ke sanubari.

"iya, tapi tetap aku manusia, masa tak boleh sedih?", kilah ku sembari merengutkan wajah menjadi delapan lipatan.

"dan sejatinya mengapa harus kecewa dan sedih jika kita benar-benar mencintai... harusnya kita bangga dong ketika orang yang kita cintai itu mendapatkan kebahagiaan... karena itu yang  seharusnya ada dalam setiap harap dan do'a", jawabnya pelan, tapi lagi-lagi mendobrak sisi pekat hati.


*hanya penggalan curhat dengan kak Meton di awal pagi.

Comments

Popular posts from this blog

Kupu-Kupu

Asal Nama Kota Prabumulih

Tahun Baru Hijriyah