Posts

Showing posts from December, 2015

Seorang Jurnalis Mesti Hidup Merdeka Dalam Mencari Kebenaran

Image

Oke, Deal!!!!

Image
"Oke, Deal!!", ujarnya bersemangat sembari menjabat erat tanganku. Aku tersenyum, memandang wajah tulus yang selalu menemaniku disaat ku membutuhkan "tong sampah" dari semua keluh kesah di hati.
"Hei! kok malah bengong, aku rasa kesepakatan ini bakal selesai sebelum di tandatangi seperti saat sudah-sudah,,", ujar nya dengan merengutkan wajah.
"Aku janji, aku akan berusaha, percayalah!", jawabku mencoba menyakinkan walaupun aku mengakui kalau aku sudah terlalu sering mengingkari janji bila berkenaan tentang yang satu ini.
"Oke, tapi sekali ini aku tak mau rugi! bila kesepakatan kembali tak dijalani, kamu harus mau membelikan smart phone inceran ku selama ini, bagaimana saudariku Nyayu Amibae, deal?", tanyanya kembali dan kembali mengulurkan tangan kanannya. "Yup, Deal!", ujarku menjabat tangannya.
Dari balik jendela aku memandang hujan deras yang menyirami kota Palembang. "Begini kah rasanya?", tanyaku pada diri sen…

Tak Henti Mengucapkan Hamdallah

"Palembang sekarang sedang hujan deras", jelasku tentang keadaan malam ini. "Artinya aku bakal mendengarkan cerita, ayoo aku sudah siap?", ujarnya dengan nada bersemangat dari ujung telepon."Aku tak tahu harus bercerita apa dan mulai dari mana, hampir 4 tahun disetiap bulan Desember  aku selalu merasa was-was, hal buruk apa lagi yang akan terjadi", ujarku menghela nafas panjang."Setiap tahun aku harus mengumpulkan keping-keping hati yang berserak, tapi tahun ini dia mengubah segalanya. Dia mampu membuatku tenang dengan cara dan perlakuannya yang sederhana tapi sangat menyentuh hati", jelasku dengan tak henti mengucapkan hamdallah dalam kalbu.

Memandang Cermin Dalam Gelap

Image
Memandang cermin dalam gelap
Tak ada bayang yang berhadap
Hanya pikir yang bermain dalam pekat
Di hati kelam tak bersekat Ah,
Kenapa dengan bulan Desember?

Kapal Ini Sudah Terlalu Banyak Nahkoda!

Image
"Aku melihat kapal ini sudah terlalu banyak nahkoda!", ujarku dengan melempar pandangan ke laut biru sembari menelisik terumbu karang yang berkali-kali tertampar ombak kecil. "walau semuanya adalah nahkoda handal, tapi sebuah kapal hanya butuh komando dari seorang nahkoda! ya,, seorang nahkoda, bukan dua, bukan tiga atau sepuluh!", ujarku meneruskan.
Dia hanya diam berdiri disampingku, mengikuti kemana arah pandanganku dengan rambut sebahunya yang berkibar dipermainkan sang bayu.
"Ayolah, jawab aku! akankah sebuah kapal dikomandoi oleh banyak nahkoda? Bagaimana jadinya kapal itu? Akankah ia kuat bila dihantam serangan badai?", kali ini aku berteriak menumpahkan segala yang selama ini rapi tersembunyi di relung hati.
Dia tak bergeming, diam dalam riak dengan wajah tetap tenang.
"Kalau semua menjadi nahkoda, lalu siapa yang akan menjadi mualimnya? siapa yang akan menjadi ratingnya? siapa yang akan berperan sebagai operator radio? Akankah ada nahkoda bi…