Kehilangan Ekspresi

Alih-alih bukannya segera menyelesaikan bahan paparan untuk rakord esok hari, aku malah rindu untuk menarikan jemari di blog ini. Biasanya sepenggal kisah percintaan yang aku gores agar menjadi sebuah kenangan indah bila beberapa tahun lagi aku kembali membacanya, tapi kali ini aku ingin sekali menuliskan tentang apa yang terpendam di hati, satu hal kecil tapi begitu menggores relung hati.

Benar kata pepatah, hal yang paling menyakitkan adalah "penghianatan" yang dilakukan oleh orang yang telah kita percayai, dan alhasil aku semakin bingung siapa yang harus aku jadikan kawan, siapa juga yang sebetulnya bukanlah orang baik untuk ku jadikan kawan.

"huaah", aku hanya menghela nafas panjang, mencoba membuang seluruh beban menggelanyut membentuk awan hitam yang semakin tebal. Berusaha bersikap egois, tapi tetap tak bisa.

Terkadang hati tak sabar dan memberontak dengan sebuah sikap tidak adil, tapi yang aneh, marahku yang seperti saat dulu aku menjadi seorang fasilitator kelurahan tak kunjung muncul ke permukaan. Air mata yang biasanya mengalir tanpa komando pun sekarang telah kering tak berbekas.  Aku sekarang kehilangan ekspresi, kehilangan saat bisa meluapkan kekesalan seperti layaknya ilustrasi gambar di sebuah komik dengan api membara yang muncul di atas kepala.

Comments

Dhyna Azeegha said…
Kadang sesuatu yang terlalu menyakitkan akan membuat kita sangat kecewa, lalu mati rasa dan tidak tahu cara mengungkapkannya...
Semoga hatinya cepat baikan yah...
^^

Popular posts from this blog

Kupu-Kupu

Asal Nama Kota Prabumulih

Tahun Baru Hijriyah