Lokasi Kumuh tak Seranum Mashmellow

Terlanjur membuka Dasbor blog sembari mengingat banyak lomba ngeblog dan menulis yang sudah di tag di kronologi facebook biar tak lupa, akhirnya aku kembali menarikan jemari di blog ini, secara semangat kembali ngumpul sejak sekitar tiga hari Bumi Sriwijaya kembali disirami butir-butir air dari langit yang siap mengusir para kabut asap yang telah melakukan penjajahan selama kurun tiga bulanan.

Mau cerita yang berat, rasa nya tak pantas kalau dilakukan di malam minggu ini jadi yang ringan-ringan dan manis saja saja seperti ranumnya mashmellow saat pertama kali menyentuh lidah. Kalau mau cerita tentang Indonesia dengan keberagaman intriknya yang sering buat mumet kepala yang memang sudah mumet, aku juga enggan, jadi cerita apa ya?? --mode thinking 50 detik.


Baik, sudah diputuskan! aku coba cerita pengalaman ku minggu kemarin, tepatnya hari sabtu kemarin  tanggal 24 Oktober 2015. Hari itu, pagi pukul 09.00 wib, dengan menyanyikan lagu broken vow dari josh groban yang selalu mengulang di bagian reff sebagai antologi perasaan yang hancur karena merindukan libur diakhir pekan yang semakin jarang dijumpai karena tak bisa mangkir dari tugas negara. Seperti saat itu, aku bersama rekan-rekan TA lainya mesti mendampingi Pak Kasatker baik hati blusukkan melihat-lihat wilayah dampingan. 


Anak-anak di kelurahan 11 Ulu Palembang

Walau lokasi sedikit berubah dari perencanaan, tempat pertama yang dikunjungi adalah kelurahan 13 Ulu, selanjutnya ke 12 Ulu, 13 Ulu, Keramasan, dan Karang Anyar - Kota Palembang. Sembari meniti jalan cor beton yang merupakan jalan khas daerah rawa, kami digiring konsultan RKPKP PU Cipta Karya ke tempat dimana proyeknya direncanakan, serta kegiatan P2KKP yang masuk dalam perencanaan Baseline 100-0-100 . Tapi sungguh, aku saat itu aku sama sekali tak tertarik dengan proyek yang ditunjukkan (secara persoalan teknis hari itu tak membuatku begairah), jadi, aku sedikit minggir dan lebih tertarik mendekati para ibu serta anak-anak yang bermukim di sekitaran tempat itu.

Sembari membicarakan tentang hal-hal umum berkenaan sanitasi dan air bersih, otak ku pun kembali berputar dan berkali-kali dalam hati menyebut asma Allah sembari bersyukur bahwa aku hidup dalam keadaan yang lebih baik dari mereka. Tak perlu mengalami semalaman harus menunggui air PAM yang waktu mengalirnya tak tentu, harus akrab hidup dalam lembabnya udara yang menelisik melalui rongga dinding papan yang tak rapat, aah,, tak sanggup aku untuk lebih menceritakannya.

Selanjutnya perjalanan dilanjut ke kelurahan selanjutnya, setelah disambut secara seremonial oleh LKM disana, dengan berjalan kaki kami kembali diajak untuk melihat-lihat kembali lokasi-lokasi kumuh di kelurahan tersebut. Aah, sampai disini hati ku kembali terenyuh, begitu besar dosa ku kalau program ini tak dijalankan dengan sebenar-benar dan semanfaatnya. Allah Maha Baik, mata ku kembali dibukakan untuk melihat realita yang ada, tak lagi menyesal aku meninggalkan libur akhir pekanku.

Permukiman kumuh di perbatasan 11 dan 12 Ulu

Permukiman Kumuh di Keramasan

Comments

Popular posts from this blog

Kupu-Kupu

Asal Nama Kota Prabumulih

Tahun Baru Hijriyah