Angka 70 dan Birocrazy!

"Hahaha!! hati-hati loh, nanti kamu kena Undang-Undang pasal penghinaan Presiden loh!", ujarnya tertawa lepas dari seberang telepon. Aku merengutkan muka, seakan-akan yang tertawa lepas ada dihadapan ku. "Aku tidak menghina presiden, tapi aku protes dengan "Birocrazy" nya Pemerintahan kita sekarang", sangkal ku hampir menyerupai klarifikasi atas pernyataannya.

"Yang saya tahu, yang kamu bilang Birocrazy itu bukan pemerintahannya, coba kamu pelajari setiap Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang ada, apakah ada yang keliru di sana?", seperti biasa ia kembali melontarkan pertanyaan mautnya. "Iya, aku mengerti, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tidak ada yang salah, tapi pelakunya itu loh, mereka yang harusnya menjadi Abdi Masyarakat malah berlaku menyulitkan masyarakat dengan ruwetnya adminstrasi yang dibuat-buat. Kamu tidak tahu sih, betapa lelahnya dilempar-lempar tak jelas, terus harus menerima ceramah yang memojokkan dan disalahkan, belum lagi tatapan mata dan kedipan penuh makna tentang sang "money" sebagai jalan Tol segala urusan, Aaah!! ini sungguh menyebalkan! Seandainya semua bisa diinstal ulang, dan semua virus bisa discan aku yakin di usia nya yang ke-70 tahun ini Indonesia tidak hanya akan menjadi Negara dengan Predikat negara berkembang!", ujar ku tak kalah berapi-api seperti sang proklamator membacakan naskah proklamasi pertamanya.


"Hahaha, calm down my dear! just give me your smile! saya ada di sini untuk mu, kamu tidak sendiri!", ujarnya mencoba menenangkan. "Huuh,, woles,, mimpi ya?? kamu ada di sana!! di negara maju dengan hukum yang tegas! dan sepertinya kamu betah sekali di sana...", ujar ku dengan nada yang merendah serasa menyesali keadaan.

"Saya memang ada di sini, tapi saya tak pernah berhenti mengikuti perkembangan yang ada di negara kita. Saya memang di sini, tapi hati saya ada di Indonesia!", ucapnya bagai hangat mentari yang melelehkan bongkah gunung es.

Aku terdiam, tak dapat memungkiri ucapannya, karena aku tahu yang dia katakan semuanya benar. Ia terkadang lebih tahu tentang keadaan Indonesia dari pada aku sendiri yang tinggal di sini. Mungkin karena ia tidak berada di dalam lingkaran "Ruwet", Pemikiran dan cara pandangnya pun menjadi lebih netral dan bijaksana. "Maafkan aku! semoga kamu tidak bosan mendengar keluh-keluh ku!", ucapku dengan nada menyesal.

"Hahaha!! saya sudah biasa! jadi jangan khawatir, walau saya di sini, saya tetap mencintai tanah tumpah darah, tapi cara mencintai itu pasti berbeda-beda, kamu mengertikan maksudnya?", tanyanya dan langsung ku jawab dengan anggukkan pelan.

Comments

mantap aikelnya ga..benar2 sangat menarik dan bermanfaat sekali..
salam kenla dan salam sukses..
makasih banyak atas informasinya gan.
beanr2 sangat meanrik dan bermanfaat sekali gan..
mantap..

Popular posts from this blog

Kupu-Kupu

Asal Nama Kota Prabumulih

Tahun Baru Hijriyah