Gemuruh di Dada

"Kamu kenapa?", suara parau di ujung telepon bertanya bagai bisa membaca apa yang aku pikirkan. "Entahlah, tapi dihati begitu bergemuruh, bagai gelombang angin amarah yang bergulung siap meluluh lantakkan semua", jawabku sembari menyibakkan ujung jilbab ke belakang. "Hahahaha,,, galau ni yeew!!", ujarnya bukan menghibur malah mengolok-olok keresahanku.

Aku hanya diam, ingin rasanya aku menutup telepon seperti waktu yang sudah. Tapi kali ini aku hanya mendengarkan dengan setengah hati tawa diujung telepon. "Ayo cerita, kenapa?", bujuknya dengan nada suara serius. "Tak lah, aku sudah males! Enakan juga tidur!", ujarku masih menyimpan dongkol didada. "Hahaha,, merajuk nih yeee!!", oloknya kembali dengan tawa terbahak yang lama.

Gemuruh di dada semakin menjadi-jadi, sebelum larva panas dimuntahkan aku pun memilih segera menutup telepon.

Comments

Popular posts from this blog

Kupu-Kupu

Asal Nama Kota Prabumulih

Tahun Baru Hijriyah