Walau Hanya Lewat Telepon

"Aku sudah hafal kebiasaanmu!", ujarnya diujung telepon sembari tertawa lepas kala aku menceritakan tentang berkas-berkas kerjaan yang aku bawa pulang tetapi tak satupun tersentuh untuk dikerjakan. "Entah, hari ini aku kehilangan semangat, terlalu banyak yang terpikir akhirnya malah tak ada aksi sama sekali", jawabku sendu. Dia diujung sana kembali tertawa seakan cuaca dingin di kotanya yang ia ceritakan di awal pembicaraan pupus oleh hangatnya saling berbagi kisah sehari-hari yang dialami.

"Masih tentang teman-teman di lapangan yang belum gajian?",kembali ia bertanya dengan nada lembut dan selalu membuat hati ku begetar. "iya", ujarku sembari menganggukan kepala padahal aku tahu ia tak akan melihat gerakkan tersebut.

"Semua pertanyaan telah coba di jawab sepengetahuan yang ada, aku mengerti siapa yang bisa berpikiran sehat kala perut berteriak-teriak menahan lapar selama 3 bulan, tetapi aku juga sedih ketika teman-teman telah mulai mencerca dan mulai mencari kambing hitam.", ujar ku terisak tanpa sadar kalau air mata telah mengalir. 

"Apa kambing hitamnya sudah ketemu?", tanyanya dengan nada canda khas. "iya, sudah ketemu, dan sekarang sedang meneleponku", ujar ku tertawa sembari sadar kalau tak semestinya aku kembali menjadikannya sebagai tong sampah gundah gulana di hati.

Ia pun tertawa terbahak-bahak, membuat suasana malam yang hening menjadi hangat dengan candanya dan seakan mengusir sang gundah terbang ke langit yang hitam. Walau hanya lewat telepon, keberadaannya begitu penting untuk hidupku.


Comments

pakde sulas said…
ada pepatah jawa begini " cipir mrambat kawat, masio gak mampir seing penting liwat" bahasa indonesianya "tanaman kecipir merambat di kawat, walau tidak mampir/singgah yang penting lewat( bisa memandang)

Popular posts from this blog

Kupu-Kupu

Asal Nama Kota Prabumulih

Tahun Baru Hijriyah