Posts

Showing posts from January, 2013

Sukarnya Mengakui Kesalahan

Image
Seorang sahabat  curhat via telepon pagi tadi, tentang dirinya yang tahu salah tapi tak berani mengakui kesalahannya, padahal hatinya telah berontak tak bisa melakukan pembenaran akan apa yang ia lakukan.
Aku tak pernah sekali pun ingin tahu kesalahan apa yang ia telah lakukan, tapi yang aku tanyakan kepadanya, mengapa ia tak mengakui saja kesalahannya? dari pada tak bisa tidur karena dihantui rasa bersalah. Dan ternyata  kesimpulannya dan jawabnya pun cukup miris semua kembali kepada yang namanya "Ego".
Yup,, Ego,, sahabat ku merasa tak perlu lah mengakui kesalahan kepada bawahannya (karena memang sahabat ku ini punya posisi yang lumayan tinggi di kantor nya), "mau diletakkan kemana muka ku kalau aku bilang itu? lebih baik aku simpan saja di hati, lama-lama juga akan lupa", ujarnya via telepon sambil sedikit tertawa.  "Tapi,, bagaimana dengan bawahan mu yang jadi sipesakitan itu? menanggung akibat dari kesalahan yang tak pernah ia buat? kamu tega?", tany…

Menikmati Tarian Hujan

Image
"Masih betah duduk di sini?", sebuah tanya mengalihkan pandangan ku dari tarian hujan yang mengalir  membentuk tirai berkemilau. Aku menghela nafas, ingin sekali aku menjawab pertanyaan sahabat ku ini, tapi entah kenapa lidah ku begitu keluh untuk mengeluarkan kata.
Aku kembali memandang ke tarian hujan yang semakin deras, mencoba berkaca di embun jendela yang semakin memutih, "aku tidak mengerti tentang hidup ini, semakin aku ingin mengerti semakin aku tak mengerti", ujar ku pelan di dalam hati tenggelam dalam irama sendu sang hujan. 
Sahabat ku duduk di samping ku, tanpa kata ikut menikmati tarian sang hujan yang semakin deras tercurah dari langit berwarna kelabu. sesekali aku melirik ke arahnya yang begitu takjub tak berkedip memandang hujan,  memandang pertunjukkan orkestra sang maha karya kehidupan.
Sekarang kami terdiam dengan pemikiran masing-masing yang menari di kepala, Ia membiarkan aku sibuk dengan pemikiran ku tentang kehidupan, tentang rahasia Tuhan y…

Profesional dan Proporsional

Image
Pagi ini, kota Prabumulih kembali diguyur hujan, entah kenapa sekilas aku teringat akan masyarakat di desa dampingan, hujan pagi yang teratur mengguyur hampir setiap hari pastinya membuat mereka bersedih, karena aktifitas untuk nakok (menyadap) karet akan menjadi sulit atau akan tertunda, hasilnya pun menjadi tidak maksimal karena getah yang belum mengental sering kali hilang terbawa aliran hujan. Dan yang paling menyedihkan, mereka seperti habis jatuh tertimpa tangga, sudah penghasilan menyadap karet kecil, mereka juga harus menghadapi kenyataan bahwa harga karet menurun, karena imbas dari krisis ekonomi di negara luar.

Ditemani lagu Donna-donna nya RSD dan gemerisik hujan yang turun, aku teringat janji ku untuk membuat artikel tentang Profesional dan Proporsional kepada kak Meton, dua kata kata yang sungguh ajaib, karena memberikan inspirasi untuk ku kembali menulis di blog ini.

Banyak sekali tanya tanpa jawab....

Image
"Kamu ingin menulis apa?", sebuah pertanyaan muncul di benak ku sendiri setelah cukup lama tertegun di depan lepi. "Ada apa dengan mu?", sebuah pertanyaan yang membuat kepala terasa sesak menyusul seakan mendesak ku agar memberikan sebuah jawaban.
Bulan ini menjadi bulan yang paling berat untuk ku jalani di kota Nenas ini, berkecamuk segala rasa dan yang paling dominan adalah rasa kehilangan. Ya, aku mengalaminya lagi. Harus kehilangan ketika aku telah merasa nyaman menemukan sahabat yang paham akan alasan ku tetap berada di program ini. Boleh kah aku meneriak kan kata tidak adil? karena ini sungguh tidak adil. Tapi.. aku bisa apa? hanya ada rinai hujan dari langit hati yang bergemuruh.
Banyak sekali tanya tanpa jawab yang terjadi, banyak sekali akibat yang terjadi tanpa diketahui penyebab nya dan hal ini membuatku merasa harus kembali mempertanyakan apa alasan ku tetap di sini?

Just Move On!!!

Image
Tirai putih di kamar melambai-lambai dipermainkan sang bayu. Aku terduduk di sini, sambil memandang awan putih yang lamban-laun berubah menjadi kelabu. Kuhembuskan nafas lelah, kala aku akhirnya menemukan hikmah dari apa yang terjadi beberapa hari ini.
Kejadian-kejadian yang lumayan menguras air mata itu pun berhasil melekungkan senyum keperihan, keegoisan, nurani dan nilai universal pun ternyata menjadi penghias di setiap kejadian,  pelajaran yang menjadi hikmah ini pun membuatku harus berpikir agar tidak lengah berada di zona nyaman tapi tidak aman.
Just Move on!!
Dunia pasti berputar Ada saatnya semua harus berubah Ingat pasti bertukar Kita harus siap hadapi semua
Ikhlaskan segalanya Jalani semua yang ada di dunia
Tuhan pasti berikan kita Segala yang indah Dengan segala anugerah tuk kita Yakinkan kita pasti bisa jalani semua Jagalah semua yang telah ada'tuk hidup kita
ST-12

Air mata tak lagi terbendung

Image
Air mata tak lagi terbendung kanan kiri, depan belakang semua dikepung banjir Terasa hati perih, tapi tak banyak yang bisa dibuat
Air mata tak lagi terbendung ketika kicau burung tak lagi terdengar Sorak-sorai anak-anak yang bermain pun berubah menjadi jerit tangis Terasa hati pilu, tapi tak banyak yang bisa dibuat
Air mata tak lagi terbendung ketika tubuh basah menggigil kedinginan di camp pengungsian Tak ada kasur nyaman dan selimut hangat yang ada hanya beratap langit dan berlantai bumi Terasa hati getir, tapi tak banyak yang bisa dibuat
Air mata tak lagi terbendung terbersit di hati apakah alam sudah murka? atau ini adalah hukum alam bagi yang tak pandai menjaga alam karena Lahan hijau tempat resapan air berganti dengan gedung pencakar langit Terasa hati sedih, tapi tak banyak yang bisa dibuat

Pagi ini aku hanya ingin menulis

Image
Pagi ini aku hanya ingin menulis Menulis sesuatu yang tak tertulis karena memang tak mampu terungkap

Pagi ini aku hanya ingin menulis Menuangkan suara malam dan siang yang berlagu di hati Menuangkan keegoan, kesedihan dan ketidak berdayaan

Pagi ini aku hanya ingin menulis Untuk melukiskan teriakkan sukma yang merintih lirih




Antara Komitmen, Konsisten, Pecundang dan Tarian Jemari

Image
Suara Gemuruh bersahut-sahutan di langit kota Prabumulih, sejenak menghentikan ku dari aktifitas seharian di istana dingin, berkas-berkas kerjaan belum terselesaikan masih bertumpuk dan berserak di lantai petakan kamar ku, tapi entah kenapa jemari ini ingin sekali menari-nari untuk mencerita kan cerita hujan di sore ini.

Aku mengela nafas panjang, "Komitmen dan Konsisten" adalah dua kata mujarab yang menggelitik untuk ku menarikan jemari, dua kata yang saling berhubungan tersebut lah yang membuat ku hari ini sengaja menyepi di Istana Dingin.

Ku lirik lukisan hujan yang menyembur di kaca jendela kamar, hati ku pun ingin berteriak bersama tarian jemari, kenapa sering sekali komitmen tidak dibarengi oleh konsistensi? bukankah komitmen dibuat agar bisa diaplikasikan secara konsisten, untuk apa dibuat komitmen bila tak di lakukan secara konsisten, tidak kah itu sama dengan membuat suatu aturan, tapi secara nyata sendiri mengingkari?

Alunan irama lagu korea yang terlantun syahdu d…